Sa Butuh Ko Pu Cinta

I need your love

DURATION: 13:33 minutes
PLACE: Wamena, Jayawijaya Regency, Papua
DIRECTOR: Benedicta Lobya, Franky Lokobal dkk

More than 300 children live around Irian Street, Jibama Market and several other places in Wamena, the capital town of the Jayawijaya Regency of Papua, Indonesia. They should be in school, studying for a better future. However, they are now falling into the city’s harsh life.

Every day these children are stranded in shopfronts. They sleep under the sky on top of cardboard with only used sacks to cover themselves through the night.

To support livelihood these children would do any work. They would carry goods from local sellers at Irian Street or offer to cover the goods with cardboards to avoid them getting exposed to sunlight. Their challenging environment has brought them deep in the dark side of street life.

The children inhale glue because life can be unbearable at times. Nonetheless, their sense of camaraderie is admirable. These are children of Papua, too. They need our love. Sa Butuh Ko Pu Cinta.

Sa Butuh Ko Pu Cinta

DURASI: 13:33 menit
TEMPAT: Wamena, Jayawijaya, Papua
DIREKTUR: Benedicta Lobya, Franky Lokobal dkk

Lebih dari 300 anak hidup di sekitar jalan Irian, Pasar Jibama, dan beberapa tempat lain di Wamena, Papua. Mereka adalah anak-anak yang harusnya berada dalam kelas dan belajar untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Namun kini mereka terjerumus dalam kerasnya hidup di kota.

Setiap hari mereka tidur di emperan toko beralaskan karton berselimutkan karung bekas serta beratapkan langit.

Untuk menopang hidupnya, anak-anak ini bekerja apa saja yang bisa mendatangkan uang. Mereka mengangkat barang milik para pedagang di ruko-ruko di Jalan Irian atau menutup kendaraan dengan karton agar tidak terpapar panas matahari. Kesulitan hidup setiap harinya membuat anak-anak ini terjerumus dalam dunia hitam di jalanan.

Anak-anak ini menghirup lem Aibon untuk menghalau beban hidupnya. Namun Aibon tidak mampu menghancurkan rasa kemanusiaan dalam diri mereka. Saling perhatian terhadap sesama yang lain tetap tinggi. Mereka pun tetap ramah terhadap masyarakat lain meski kerjanya seringkali tidak dihargai sebagaimana mestinya.

Meski demikian, masyarakat menstigma mereka sebagai anak jalanan yang berbahaya. Masyarakat biasanya menjauhi anak-anak ini namun tak ingin mendekati mereka untuk mengetahui kehidupan mereka. Mereka bukanlah anak-anak jalanan yang harus ditakuti. Mereka adalah anak-anak Bangsa Papua yang tidak membutuhkan cercaan dan hinaan. Mereka butuh perhatian. Anak-anak ini katakan, Sa Butuh Ko Pu Cinta.

no comments

Leave Your Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*