FESTIVAL FILM PAPUA V 2022


FESTIVAL FILM PAPUA V , BIAK PAPUA

07 – 09 Agustus 2022

“Adat dan Budaya Papua, Harkat dan Martabatku”

 

Jouw Suba…

Eksistensi masyarakat adat Papua dalam mempertahankan hak atas tanah, budaya, bahasa serta kearifan lokal asli Papua menjadi perhatian serius dan tanggung jawabsemua pihak, serta demi mengembangkan sumberdaya manusia secara khusus masyarakat adat Papua, berbagai literasi secara lisan maupun informasi tertulis dari sumber-sumber media (cetak dan audio visual) yang disajikan cukup unik dan menarik jika diangkat kembali dalam bentuk karya Film Dokumenter atas realitas kehidupan, kondisi dan relasi sosial masyarakat setiap harinya.

Festival Film Papua (FFP) merupakan agenda tahunan yang digagas oleh anak-anak muda Papua yang tergabung dalam Perkumpulan Papuan Voices. FFP telah berjalan sejak tahun 2017, menjadi ruang bereskpresi bagi generasi muda Papua dalam kreatifitas dan karya film dokumenter untuk terus menceritakan kisah-kisah menarik tentang masyarakat adat Papua. Papuan Voices terbentuk pada 10 Desember 2012 dan telah mendapatkan keabsahan melalui akta Notaris, Nomor : 36 tanggal 21 Mei 2016 oleh Puspo AdiKuncoro, SH,.Mkn.

Papua Voices yang telah berusia 9 (sembilan) tahunPada tahun 2022 telah menggelar 4 (empat) festival Film pada beberarapa wilayah di tanah Papua. Berabagai thema pada pelaksaan FFP disesuikan dengan kondisi Papua saat ini pada umumnya dan kondisi wilayah terselenggarannya FFP pada khusunya. Siring dengan jalannya waktu dan sebagai hal yang dilaksanakan secara rutin maka, akan diadakan FFP ke V yang di diadakan dikabupaten Biak Numfor sebagai bagian dari wilayah adat Saireri.

Melihat kondisi secara umum saat ini banyak sekali hal hal yang telah berubah jauh secara adat, budaya, harkat dan martabat dari norma norma adat dan kearifan lokal yang secara turun temurun sebagai warisan nenek moyang orang Papua. Kita dapat melihat dari beberapa hal, yaitu:

  • Perempuan : Penghargaan atau menghargai Perempuan Papua sudah bergeser jauh dari nilai adat yang berlaku, bahkan mulai hilang.
  • Bahasa : Bahasa daerah sebagai jati diri orang Papua, sudah mulai hilang dan generasi saat ini untuk berbahasa daerah sangat kurang dan munculnya ego dalam berbahasa daerah.
  • Tanah dan Hutan : Hutan sebagai ibu, untuk mencari nafkah dan sebagi harga diri mulai hilang dan tidak dimanfaat secara kearifan lokal.
  • Ekonomi : Produk produk ekonomi yang sudah dikelola secara adat dan turun temurun seperti sudah mulai hilang yang biasanya dikelola secara bersama seperti Sasisen, berkebun, dll.
  • Pendidikan : Pendidikan secara adat dan budaya yang telah ada sejak turun temurun mulai hilang, dimana sebagai pelajaran dan pengalaman awal dari keluarga dan lingkungan sudah tidak diajarkan lagi, bahkan generasi saat ini enggan untuk mempelajari hal tersebut, hal ini dipengaruhi karena egoisme dan pengaruh budaya luar.
  • Kesehatan : Masyarakat Umumnya dan generasi saat ini tidak lagi megi menggunakan obat obat alami dan tidak tidak mengetahui tanaman obat yang digunakan oleh orang tua dalam menyembukan berbagai penyakit.
  • Budaya dan Adat : Sebagai warisan nenek moyang, budaya dan adat setempat sering diabaikan oleh kita bahkan sudah mulai hilang satu persatu, padahal budaya dan adat adalah pemrsatu bagi kita sebagai penerus generasi.

Dari beberapa hal diatas kita pasti dapat cermati disekeliling kita baik keluarga, lingkungan bahkan wilayah adat kita, hal hal diatas sudah mulai tergeser jauh dan mulai hilang. Agar budaya dan adat dari berbagai segi diatas dapat dipertahankan dan dingatkan kembali tetang warisan leluhun makan kita perlu “Melawan Lupa”

Untuk mengangkat kembali Warisan leluhur kita, maka Perkumpulan Papuan Voices akan menggelar kembali FFP V di Biak Numfor dengan Tema FFP V “Adat dan Budaya Papua, Harkat dan Martabatku”. dan sub Tema “Merajut Budaya dan Mengembalikan Adat Leluhur sebagai Kearifan Lokal Bagi Generasi Muda Papua untuk Mempertahankan Harkat  dan  Martabat”.

Tema ini bermakna, meliputi:

  • Adat adalah kerifan lokal sebagai hak warisan yang harus dipertahankan.
  • Budaya adalah interaksi antara manusia dan manusia, manusia dan alam sebagai kebiasaan yang telah dilaksanakan turun temurun sebgai pemersatu.
  • Harkat adalah nilai kemanusiaan yang dipertahankan sebagai jati diri yang tidak dimiliki oleh orang lain / suku lain
  • Martabat adalah harga diri kita sebagi manusia papua yang telah dicipkan oleh Tuhan sebagai warisan turun temurun.

 

FFP V akan berlangsung pada tanggal 07-09 Agustus 2022 nanti dan terdapat 3 elemen atau iven yang akan dilaksanakan secara pararel yakni:

1.Kitorang Kompetisi Film Dokumenter: adalah kompetisi film dokumenter yang dibuka untuk umum. Dan sesuai tradisi pengumuman penenang juara I-III dan juara favorit akan diumumkan pada tanggal 09 Agustus 2022.

Untuk informasi lebih lanjut klik disini.

 

2.  Kitorang Belajar Bersama : sebuah sesi group diskusi terfokus  yang akan dihadiri oleh peserta pemuda dan mahasiswa dengan narasumber yang berkompeten di bidangnya, untuk melakukan transfers pengetahuan terutama bagi dan oleh generasi muda kepada generasi muda lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut klik disini.

 

3. Kitorang Nonton dan Berdiskusi : kegiatan nonton bersama dengan film dokumenter sebagai pemantik diskusiyang setiap sesi terdapat penanggap dan dilanjutkan tanya jawab antara peserta dan penanggap film dalam ruangan public dengan topik-topik yang menarik dan kekinian.

Untuk informasi lebih lanjut klik disini.

Yuuukk.. sahabat, jangan lupa kam lagi bantu share link ini yah , agar semua teman-teman kamu mengetahui informasi Festival Film Papua V di Biak, Papua.

Kasumasa ma syowi.